Desain Rumah Kayu Tahan Gempa

Posted by Tercengang on 04.21 in ,

Sekitar 71 persen wilayah bumi kita ini terdiri atas bahari dan samudera, atau dengan kata lain berupa air. 
 Lempeng-lempeng bumi ini bersama-sama ialah belahan dari kerak bumi yang terdiri atas aneka macam jenis bebatuan. Efek dari pergeseran itu ialah berupa getaran yang disebut gempa. Gempa terjadi alasannya ada perpindahan massa dalam lapisan batuan bumi. Kekuatan suatu gempa bergantung pada jumlah energi yang terlepas, ketika terjadi pergeseran dan tumbukan.

Penyebab Gempa
Pergeseran tersebut memang memungkinkan terjadinya tumbukan. Ada kalanya pergeseran itu menimbulkan perubahan bentuk yang tiba-tiba, sehingga terjadi ledakan dan patahan yang menimbulkan gempa andal yang disebut sebagai gempa tektonik. Keadaan itu tidak bisa kita hindari alasannya memang belahan dari evolusi bumi.

Nah, walaupun gempa tidak sanggup kita prediksi, namun kita sanggup meminimalisir efek yang ditimbulkannya dengan cara membangun rumah tahan gempa. Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh tahun 2004 lalu, sebagian besar rumah tradisional (berbahan kayu) masih tetap berdiri kokoh. Bahkan di negara jepang yang sering terjadi ratusan gempa, materi dasar rumah mereka (Jepang, red) terbuat dari kayu dan kertas ditambah lagi dengan pintu yang digeser kesamping, serta meja ala jepangnya yang hampir menyentuh lantai.

Teknologi Untuk Gempa
Kini dengan teknologi barunya, Jepang membuat rumah Barier ialah rumah bola nomaden yang mempunyai banyak keistimewaan. Diantaranya, tahan gempa dan bisa mengapung di air.  Rumah bola ini dibentuk menurut Hukum Bernauli yang berbunyi: jikalau ada angin berhembus di bawah suatu benda, maka benda tersebut mengalami tekanan gaya ke bawah. Dinding rumah ini terdiri dari 32 sisi. Rahasia dari rumah ini ialah pada sistem pondasinya. Dengan memakai struktur pondasi bebas (beda dengan rumah biasa) dan tunjangan gaya yang merata di 32 sisi dinding rumah bola ini menimbulkan rumah bola ini mempunyai kekuatan yang merata pada setiap bagiannya.

Bahan rumah ini terdiri dari tiga lapisan, lapisan tengahnya bisa mengalirkan udara masuk dan keluar. Bagian sisi paling luar dibentuk dari materi urethane anti air, lapisan tengah ialah agregat (kerikil) dan lapisan dalamnya terbuat dari materi kayu. Makanya, sela-sela kerikil inilah yang dimanfaatkan untuk mengalirkan udara.
Struktur utama rumah tahan gempa ini tidak ditanam atau ditopang dengan fondasi yang memanjang di bawah dinding rumah, tetapi hanya memakai umpak di setiap sudut rumah. Konsepnya mengadopsi model rumah tradisional etika Jawa yang dibentuk dari kayu. Dengan penopang semacam ini, ketika terjadi gempa, relatif bisa fleksibel. Jika memakai model fondasi menyerupai rumah-rumahkonvensional, hampir dipastikan akan mengalami keretakan atau patah ketika dilanda gempa hebat.

Rumah Tahan Gempa

Rumah tahan gempa, menurut analisa data dari Kementerian Riset dan Teknologi

 adalah sebagai berikut: 

Konsep Dasar 

Penerapan konsep tahan gempa antara lain dengan cara membuat sambungan yag cukup besar lengan berkuasa diantara aneka macam elemen tersebut serta pemilihan material dan pelaksanaan yang tepat.
Konsep rumah rujukan yang dikembangkan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (KMNRT) tidak hanya mengacu kepada konsep desain tahan gempa saja, akan tetapi meliputi konsep pemanfaatan material setempat, budaya masyarakat dalam membangun rumah, serta aspek fasilitas pelaksanaan.

Pondasi
Pondasi memakai sistem pondasi kerikil kali menerus, dimana korelasi antara sloof dengan pondasi dipergunakan menyeramkan setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan agar ada keterikatan antara pondasi dengan sloof, sehingga pada ketika terjadinya gempa ikatan antara ponadsi dengan sloof tidak lepas.

Dinding
Dinding yang digunakan merupakan perpaduan antara kebiasaan masyarakat setempat yang memakai material kayu dan dinding yang terbuat dari batu-bata. Untuk menyatukan dinding dengan kolom maupun sloof, dipergunakan menyeramkan yang dipasang pada jarak 0.3 meter. Untuk mengatasi adanya gaya horisontal akhir gempa, maka pada dinding di pasang pengikat silang sebagai pengaku. Setiap bukaan yang cukup lebar menyerupai : pintu, jendela harus dipasang balok lintel. Dalam desain bangunan ini balok lintel disatukan dengan kayu kusen atas.

Kolom
Kolom memakai material kayu dengan ukuran yang ada di pasaran yaitu ukuran 2 x 5/10. Pemakaian ukuran yang ada dipasaran, dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat dalam mencontoh. Untuk menahan gaya geser akhir gempa, maka pada ujung bawah kolom dipasang plat berbentu U yang ditanam dalam adukan beton sloof. 

Untuk menjamin adanya satu kesatuan antara kolom dengan rangka kuda-kuda, maka salah satu batang diagonal kuda-kuda dipanjangkan hingga ke kolom. Sementara itu untuk menghindari terlepasnya kusen pintu/jendela, maka batang horisontal kusen pintu/jendela. 

Atap
Kuda-kuda memakai material kayu dengan atap memakai seng. Metoda sambungan yang dipergunakan sangat sederhana, hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam mencontoh. Untuk memperkuat korelasi antara batang dan menjaga stabilitasnya, maka korelasi antara batang membentuk segitiga. Hubungan antara kuda-kuda yang satu dengan kuda-kuda lainnya memakai batang pengaku dan batang pengaku di tubuh bangunan yang biasa disebut dengan batang lintel.

Kesimpulan Desain Rumah Tahan Gempa
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan ialah sambungan antar batang horisontal jangan terletak pada titik buhul, hal ini untuk menghindari terjadinya lendutan, harus dihamai antara sambungan tarik dan sambungan tekan. Plafon pada overstek memakai kisi-kisi ukuran 2/3, hal ini dikamsudkan untuk memperlihatkan sirkulasi udara yang lebih baik, mengingat atap yang dipergunakan ialah seng yang cukup panas.