Memilih Lampu Ekonomis Energi

Posted by TriScont on 02.22 in ,

Krisis energi yang populer diseluruh dunia telah mendorong lahirnya teknologi gres di dunia pencahayaan beberapa dekade yang lalu, yaitu lampu hemat energi (LHE) sebagai bab dari solusi. Namun jenis yang ada masih sangat terbatas untuk penerangan general, sehingga beberapa kalangan masih lebih menentukan lampu pijar untuk kesempurnaan estetika.
Berdasarkan fakta yang diungkapkan BBC, perkembangan industrialisasi ketika ini telah menyedot 70% persediaan minyak bumi yang ada di bumi ini. Dari jumlah pemakaian yang luar biasa ini, diperkirakan minyak bumi akan habis pada tahun 2030, gas alam pada tahun 2040 dan batubara pada tahun 2200. Membayangkan apa yang akan terjadi sudah sepatutnya kita ambil bab dalam penghematan energi. Mari memulainya dari yang paling mudah, yaitu mengganti lampu pijar dengan LHE.
Kehadiran LHE untuk menggantikan lampu pijar yang sangat boros energi patut disyukuri. Selain mengatasi krisis energi, lampu ini sanggup menghemat tagihan listrik setiap bulannya. Tetapi ternyata masih ada kekurangan pada LHE yang karenanya menimbulkan orang lebih menentukan memakai lampu pijar.

Kekurangan LHE :
Desain standar, tidak estetis dan cenderung berukuran besar
Jenisnya masih terbatas pada lampu fluorescent (neon).
Fungsi terbatas untuk penerangan general.
- Belum sanggup menggantikan tugas lampu pijar sebagai task lighting (penerangan setempat) dan decorative lighting.
Belum ada jenis yang spesifik untuk indoor maupun outdoor.

Kesimpulan Lampu Hemat Energi
Tetapi kini ini sudah ada LHE yang memiliki paduan penemuan dan karya seni, alasannya diciptakan tidak hanya untuk menggantikan sistem penerangan konvensional yang boros energi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan estetika, baik dari segi desain maupun fungsi. Salah satunya ialah lampu MEGAMAN.